
by : Muhammad Habibie
Pagi itu terasa berat bagiku memalingkan badan tubuhku yang terlalu mengikat kuat dengan kehangatan kasur empuk yang berada didalam ruang kamar tidur. Gundukan bantal bersarung gambar logo Ac milan yang selalu menemani kelelapan tidurku, kali ini harus basah dan banjir akibat luapan air mulutku yang tidak bisa dibendung lagi. Agak sedikit bau memang, tapi lucu dan unik sekali bentuk dan lengkungan artefak air raksa yang dihasilkan mulut naga tersebut, dimana kalau ditinjau dari segi nilai artistik bisa dianggap sebuah karya yang hampir mirip dengan karya batik Pekalongan.
" apa ini ? kok lengket." Tanyaku keheranan sambil membalikkan posisi bantal bersarung yang sekarang gambar logonya telah menjadi dua, logo ase milan dan logo air liur.
Aku terlalu letih dan lemah bila disuruh membalikkan badanku yang berlemak 65 kilogram dan berbuncit. Dimana apabila rasa capekku terasa berat, maka semakin berat pula rasa malesku mendengarkan suara deringan beker yang berasal dari HandPhone . "Alarm sialan, males aku mematikanmu" bentakku dalam hati seraya tidak menyadari kalau akulah sendiri yang memasang waktu itu sedemikian pagi.
Laksana Truk tronton terguling pulas diatas pekarangan rumput yang berada disamping jalan tol, maka susah bagi diriku menerlentangkan tubuh bongsor tanpa bantuan mobil kontraktor yang bertenaga kuda ala super sumbawa .
" Apa hajatku bangun pagi-pagi begini" pikirku sambil mengingat-ingat hari jadwal masak rumah.
Tradisi masak-memasak dengan sistem jadwal piket memang sudah menjadi kewajiban dan kebiasaan tersendiri bagi penduduk rumahku, yang lebih dikenal dengan sebutan rumah Baity kahfi . Dimana jadwal harus ditepati dan dilaksanankan sesuai harinya. Dan apabila ada yang berhalangan maka dia diharuskan untuk mencari pengganti dari teman-teman Baity kahfi lain, yang kemudian nantinya dia harus menyahur untuk memasak di hari jadwal si pengganti tersebut.
" Hari ini aku free, pingin tidur puas… sampai dapat mimpi indah bernostalgia dengan cinta pertamaku yang bergigi gingsul manis itu," imbuhku sambil membayang-bayangkan skenario nostalgia yang berlabel extra jorok dan vulgar.
Di sebagian waktu, memang terkadang terjadi dalam meng-imajinasikan sesuatu, yang darinya muncul imajinasi yang lain, dan kejadian ini sering berlaku pada sistem kinerja otak imajiner-ku. Proses semacam ini apalagi kalau bukan bukti maha besarnya anugerah akal manusia yang diberikan oleh Allah subhanallah wa ta'ala yang berfungsi menjadi pengendali serta penyeimbang kehendak atau keinginan manusia. Tapi sayang seribu sayang. Dengan begitu megahnya kekuasaan Allah yang menganugerahi kekuatan imajinasi dalam otak manusia lebih-lebih daya gedor otak dari kalangan kawula muda, seringkali mereka mengalihfungsikannya menjadi rangkaian imajinasi-imajinasi kotor, jorok dan bersifat dekonstruktif. Dan salah satu contoh pelaku utamanya adalah aku.
"ah, sudah jam berapa sekarang ?" tanyaku lemas kepada teman sekamar yang telah bangun lebih duluan. " masih jam setengah sepuluh kok, masih pagi. Lanjutin terus tidurnya…". Jawabnya.
Mendengar jam sepuluh. Mataku tidak menggubris sama sekali penyampaian data informasi yang tersambung lewat kabel-kabel urat syaraf telingaku. Otakku masih aktif bekerja dan sadar akan informasi yang tersalur tersebut, namun tidak bagi syaraf mataku yang mungkin menilai kalau informasi yang dihasilkan oleh indera telinga adalah hasil penilaian yang salah. Dan mengklaim kalau hanya penilaian yang dihasilkan oleh indera mata saja yang pantas dianggap benar.
"tidur lagi aja yuk…!". Saran syaraf mataku kepada syaraf-syaraf indera lainnya yang sedang bermusyawarah aktif dalam ruang akal sanubariku. Yang tak lama kemudian mereka juga setuju dengan saran syaraf indera mata tersebut
***
Waktu bergulir dan terus bergulir sambil membawa hanyut moment pagi dan membawa datang moment siang. Sampai tak terasa aku terlelap dalam tidur panjangku yang justru membuat badanku tidak merasakan kebugaran malah sebaliknya terasa linu-linu dan pegal-pegal.
Para syaraf-syaraf inderaku sudah berkumpul di balai pertemuan akal yangmana sempat ikut terlelap bersama ragaku sebelumnya, akantetapi mereka hanya saja belum mampu membangunkan kemajemukan tubuhku. Mungkin karna ia tadi juga ikut merasakan pegal-pegal yang tak karuan akibat tidur panjang yang tidak beralasan.
"Oii.., Natijah Ushuluddin udah turun tuh…" luapan suara salah satu teman Baity kahfi yang menembus dinding-dinding kedua telingaku .
" Beneran udah turun bang…?". Tanya salah satu teman lain kepadanya.
" iya bener. Sumpah. Ni gue barusan dateng dari kuliah." Balas mahasiswa muda yang berasal dari kota Depok .
" ya Allah, natijah…". Kataku kaget sambil melonjak dari tempat tidur setelah telingaku terdengar pembicaraan tanpa kalam izin dan permisi itu.
Natijah atau hasil ujian Al Azhar memang sudah lama dinanti-nantikan oleh mahasiwa jurusan ushuluddin universitas Al Azhar Kairo. Setelah dimana anak-anak mahasiwa jurusan lainnya sudah dapat mengetahui terlebih dahulu akan hasil kerja usahanya sebulan penuh menempuh ujian yang begitu menguras tenaga dan waktu tersebut.
Jam dinding kamar sudah menunjukkan pukul dua siang. Bergegas aku lansung mengambil sikat gigi dan odol yang biasa aku letakkan diatas lemari es berpintu dua. Setelah dua menit kemudian aku langsung sholat dhuhur dan mengikhlaskan hati sembari menengadahkan kedua tanganku dalam berkhidmat dan bermunajat kepada Allah subhanallah wa Ta'ala.
" Ya Allah. Apabila Engkau menghendaki
Hasil usahaku dalam imtihan,
maka berilah hambamu ini kenajahan."
"dan Apabila Engkau belum menghendaki
Hasil usahaku dalam imtihan,
Maka berilah hambamu ini ketabahan".
Bercelana jeans hitam namun sedikit kusam karna baru saja kering dari jemuran, dan berpakaian kemeja biru kotak-kotak tanpa semprotan parfum. Aku melangkahkan kaki demi kaki keluar kamar menuju ke kampus Al Azhar. Dan disaat tangan kananku belum sampai memutar ganggang pintu rumah, aku menemukan sedikit cekungan kebingungan yang mengganjal dalam diriku.
" aku harus optimis dan memasrahkan semuanya pada Allah". Gumamku dalam hati sambil mengepalkan kelima jariku dalam satu gugusan tangan.
" Apabila aku najah ( lulus ) maka itu semata-mata anugerah dari Allah yang harus aku syukuri, dan apabila aku rosib ( gagal ) maka itu adalah nasib akibat dari kecerobohan dalam diriku." imbuhku
" Ce-klek…." Suara ganggang pintu yang terbuka oleh tangan kananku.
Ku langkahkan kedua kaki keluar dari pintu rumah Baity Kahfi menuju ke kampus Al Azhar, seraya berkata " Bismillahirrohmanirrohim…., duhai nasib. Sungguh aku benci kegagalan. Tolong…! Kabari aku dengan kabar baikmu."
Gamie, 07 Agustus 2009