Kamis, 02 Juli 2009

Singkat Filsafat antara Peradaban dan Perpecahan


Dalam perspektif kehidupan, Allah menciptakan sesuatu dari miliaran sesuatu bukanlah karna tidak ada faedah, maksud, hikmah tersembunyi dibalik layar kacanya sehingga dapat melegalkan sebuah opini bahwa penciptaan sesuatu tersebut adalah sebuah kesia-sian dan, atau sebuah opera sandiwara serial yangmana semua makhluk hidup tidak punya hak supremasi ingkar dan mbalelo dari rangkaian riwayat hidup yang sudah diskenariokan itu.

Pemahaman semacam ini tidak dapat dibenarkan, terlebih pemahaman yang kedua, kenapa? Pertanyaan saya, karna dengan begitu manusia yangmana ia adalah kholifah dan pembangun peradaban dibumi akan menggabaikan bakat, kapabilitas, dan kekuatan akal yang sangat istimewa dari makhluk lain tersebut. Bagaimana tidak? Karna manusia dalam koridor pemahaman tersebut, akan menumbuhkan sebuah pemikiran fundamental yang menggerakkan untuk tidak beraksi, beaktifitas dan berusaha dalam membangun nasib kehidupan dan peradaban bangsanya untuk semakin maju, bermasadepan dan berpendidikan.
Semuanya diserahkan tanpa usaha apapun pada Allah dengan dalih takdir dan ketentuan sudah dicatat dibuku besar ketuhanan yang tidak bisa diotak-atik lagi. Manusia tinggal menunggu nasib saja.

Kalau memang demikian, dimana letak fungsi akal? Untuk apa tuhan menciptakannya? Bukankah itu sebuah hal yang sia-sia?

Sebenarnya penciptaan akal manusia adalah bukan sebuah pajangan atau sekedar hiasan, melainkan sebagai sarana kita untuk mengenal Allah sang Pencipta Alam dimana mengetahui Allah lebih didulukan sebelum mengimaninya. Disamping itu ia juga sarana untuk mencapai kemajuan dan perkembangan pembangunan dan industri kebudayaan yangmana kemajuan dan perkembangan adalah nikmat Allah yang tidak bisa diabaikan, dan bagaimana kita bisa syukur kalau kita ternyata kufur?.

Akal manusia sudah terlalu lama tidur dari kenyenyakan dan keenakannya. Ayat-ayat kalam tuhan sudah berkali-kali mengingatkan dan menganjurkan, bahkan utusannya yang berjenis manusiapun (nabi) sudah mencontohkan dan menyatakan, maka dari itu, tidak lazim kalau manusia lari dari kemajuan dan jalan ditempat diatas kemunduran.

Berfilsafat sangat berkenaan sekali dengan berfikir, dan berfikir bertautan sekali dengan akal, dan akal hanya ada pada manusia. Maka, apabila manusia berakal berfikir maka dia berfilsafat, dan apabila dia berfilsafat maka dia tidak menyia-nyiakan rahmat dan pemberian Allah, dan apabila dia tidak menyia-nyiakan pemberian Allah maka dia bersyukur, dan apabila dia bersyukur maka dia bukanlah orang yang kufur.
Namun, apakah semua hal di dunia ini tanpa ada batasan dan undang-undang?, dan jawabannya tidak, karna semua itu ada batasan dan aturannya yang bersumber dari Allah Subhanallah wa ta'ala. Bagaimana kita bisa bebas berkuasa kalau kita sendiri berada dalam kekuasaan-Nya. Bagaimana kita bisa sombong kesana-kemari kalau kita sendiri berada dalam kesombongan-Nya.

Oleh karna itu apabila ada orang berkata bahwa islam mengalami kemunduran dan perpecahan umat, akibat dari penerjemahan filsafat-filsafat yunani kedalam bahasa arab yang digerakkan oleh sebagian Kholifah-kholifah Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah, Om Bibot menegaskan disini bahwa perpecahan islam bukan disebabkan oleh adanya gerakan penterjemahan filsafat-filsafat yunani kedalam bahasa arab, namun perpecahan itu sudah terjadi ketika terbunuhnya kholifah Usman RA dan masalah pokoknya awet sampai sekarang yaitu perebutan Khilafah, Imamah atau apalah, dan sejak peristiwa itu muslimin pecah menjadi beberapa sekte dan aliran fanatik buta, bahkan bisa dibilang paling buta dimana tidak munculnya pemikiran-pemikiran baru dari segi keintelektualan dan keilmuan.

Dari sisi yang lain, menurut catatan Sejarawan muslim Ibn Kholdun dalam kitab Mukaddimahnya mengatakan bahwa dulu, bangsa arab adalah bangsa yang paling jauh dari peradaban pembangunan sehingga konotasinya adalah orang arab berbudaya badui yang mengaku kaya akan pahala tapi sedikit bermaslahah, dan lebih tinggi hirarki keukhrawiyannya tapi paling bawah tingkat primitifnya. Sehingga mereka berfatwa bahwa ibadah menurut ketentuan-ketentuan fikih adalah paling utama dan bukan kimia yang menurut ketentuan-ketentuan rumus ilmiyah. Fatwa ini tidak lain adalah merupakan kemunafikan belaka karna mereka ikut menikmati pengaruh-pengaruh dari produk-produk filsafat manusia ini baik demi menunjang kebutuhan sehari-hari atau demi menopang politik sekte mereka masing-masing.

Membangun peradaban dari keprimitifan adalah sebuah keharusan bagi setiap manusianya. Dan demi melancarkan konstruksi peradaban tersebut, manusianya harus mempunyai ilmu arsitektur pembangunan profesional dan handal. Sehingga kesimpulannya adalah pembangunan peradaban primitif ini harus didasari oleh ilmu-ilmu pengetahuan peradaban, walaupun itu hal baru yang baik tentunya (bid ah hasanah) ataupun produk tersebut dari luar dengan menggaris bawahi akan kelayakan atau tidaknya dalam segala fungsi dari kemaslahatannya.
Dan kuncinya pada waktu itu adalah belajar filsafat sehingga segala sesuatu adalah ilmu, dan ilmu itu terus berkembang seiring perkembangan akal pikiran manusia, dan dimana ilmu itu berkembang maka ia bermaslahat pada peradaban dan kebudayaan kehidupan manusia.

Dengan perubahan zaman dan kekuasaan yang silih berganti, islam tidak mengekang dan menstagnan akal pikiran manusia bahkan membebaskannya dari ikatan taklid buta dan fanatik sempit. Berlomba-lomba membangun peradaban dan kecerdasan islam adalah perlu dan beribadah dengan keimanan dan keyakinan adalah tentu.

Kata terakhir dari pandangan Om Bibot bahwa kekayaan perbendaharaan filsafat dan ilmu pengetahuan science dan teknologi bukan hanya untuk orang yunani, persia, yahudi, nasrani, perancis, amerika, jepang atau bahkan kita sebagai muslimin saja, melainkan untuk semua manusia dari segala keperluannya dengan tanpa meninggalkan keimanan kuat dalam hati kita bahwa kebenaran manusia adalah Allah semata yang menentukannya di hari pertama maupun hari akhir, dan tiada kebenaran hakiki didunia ini melainkan kebenaran bahwa Allah itu benar-benar ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar