Minggu, 05 Juli 2009

Kaka Slank or Kaka Selecao (Bagian II )










(sambungan Bagian I)

Langkahan demi langkah kami berdua meninggalkan pagar penutup pintu gerbang kost dan pas sewaktu kurang lima jangkahan kaki sampai di Warkop, tiba-tiba seorang perempuan manis berdiri didekat Warkop yang sedang menunggu angkutan umum lewat.

Mumpung suasana dan cuaca mendukung, tanpa mangap dan mingkem ditelingaku, temanku anak sunda ini langsung tancap gas nyamperin perempuan manis dengan rambut terurai tersisir rapi kebelakang hingga kebahu, sayu dan manis meski terlihat garang dan sangar yang terbukti tumbuhnya sehelai dua helai bulu kumis yang konon bisa membuat orang dewasa lemas terkapar diatas dampar.

"ehem…, emMbak kalo' nanya obeng pasti udah kuno, kalo' gitu aku nanya nama KTP emmMbak dong…??? ". Tanya anak sunda ini sambil memamerkan deretan gigi yang agak putih tapi bergidal tersebut.

Aku pun lantas terus pergi menuju Warkop Bu Sahal yang berjarak lima jangkahan kaki itu, " eh Mas Bibot, pesen opo Mas…??? Tanya Bu Sahal. " Kopi susu buk, tapi kopi sing deplokan wae yo…!" Balasku yang sedang duduk diatas dampar warung kopi. Entah tahu mengapa aku lebih suka minum kopi hasil deplokan sendiri daripada kopi pabrikan. Disamping kopi deplokan lebih menyengat bau khas dan kasiatnya dibanding kopi buatan pabrik, kopi deplokan juga mengingatkan masa kecilku yang suka sekali mengganyang kopi yang baru dideplok, dicampuri gula tanpa disedu dengan air.

" Lah terus mas Cecep mau minum opo?". Tanya Bu Sahal kepadaku. " Jang, Nginum Naon Maneh Teh..???". Teriakku. " Sssst…Jangan ganggu, Ah!". Sahutnya sambil merapikan kaos kebanggaannya itu.

"Mas Cecep jadi minum apa, mas Bibot???". Tanya lagi Bu Sahal padaku. " Ah, Udah buk, Buatin es teh perkenalan aja !. Jawabku dengan muka cengengesan.
" Yo wisss, Tak buatin Es Teh Kegatelan aja…". Sahut Bu Sahal. Terpingkal langsung aku mendengarnya.

Seakan takut dinilai nama kuno bila ia perlihatkan identitas KTPnya, maka si perempuan manis itupun dengan terpaksa mengaku kalau dirinya adalah gadis blesteran atau gadis cangkokan kali lebih humornya dari dua keturunan yang berbeda, jepang dan jawa.

" Namaku Maichan Karimoto, bapak jepang kalo' Ibuku orang Jawa asli Kebumen Masse Ya..kkk" jawab perempuan itu sambil meniru logat medok jawa Kebumen.

Seperti tidak mau kalah dengan lawan bicaranya temanku anak sunda inipun juga merencanakan siasat pemikat agar perkenalannya bisa berlangsung lama dan beralih kejenjang perteleponan dengan cara berpura-pura mengaku kalau dirinya juga anak blesteran, lebih tepatnya hubungan silang antara buah mangga dan buah nangka, eh…sorry, maksud Om Bibot hubungan silang antara orang Rusia dan orang Sunda.

" Owww…kamu blesteran Jepang ya??? Pantes…, wajahnya cakep mirip Miyabi…". Celetus anak sunda. Sedetik lewat kemudian pikirannya terperanjat kaget tanpa sadar dia keceplosan nyebutin nama artis film panas Jepang yang semalem memaksa dirinya untuk bangun ditengah malam dan pontang-panting mencari shampo buat keramas.
" uWaduh, kok Miyabi sih…? Kena tampar dah…udah..udah, tampar-tampar dah…!. Gumam anak sunda ini sambil berharap agar perempuan bernama Maichan itu tidak mengenali Miyabi dan kalaupun ia ditampar maka pipi kasarnya pun sudah siap pasang kuda-kuda menjemput paparan tangan halus Maichan .

" Ah…masak sihhh, kamu terlalu memuji deh…, biasa aja kok, jangan suka bandingin aku ma artis dong. Artis itu kan artis, pasti cantik dan seksi". Jawab Maichan yang semakin memerah warna pipinya karna merasa dipuji.

Serasa mendapat hadiah tiket liburan ke Hongkong, senangnya setengah mati ketika mendengar jawaban Maichan yang tidak tahu menahu artis cantik yang bisa membuat laki-laki tak berkedip dan keringetan itu.

" Oh iya, nama kamu siapa?" teringat pertanyaan itu dalam benak kepala maichan.
"Kenalin namaku Cecep Gorbacevp, papaku Sunda, mamaku Rusia, U can call me Gorbacevp. Nama itu pemberian dari kakekku di Rusia ". Jawab cecep dengan bahasa lugas selugas bahasa pegawai dinas yang ditanya oleh atasannya.


" Huwahahahaha….Huwahahaha…". Suara frekwensi tawaku menembus dinding-dingding daun telinga yang tidak bisa dibendung lagi.

Jarak yang tak jauh antara kedua blesteran yang tengah berdiri dan berbincang itu dengan jarak dimana aku duduk didampar panjang warung kopi Bu Sahal, membuatku leluasa mendengarkan bentuk-bentuk kalimat yang sedang mereka bicarakan sampai ke urat-urat pembicaraannya.

" Huwahahahaha…". Kuteruskan tawaku tanpa koma dan titik itu.

Disudut yang berbeda sepasang blesteran itupun saling bertatapan melihatku seakan-akan menilaiku orang yang aneh dan mirip alumni RSJ yang baru saja diwisuda.

" Ada apa toh Mas Bibot ???, kok ketawanya kenceng banget kayak nonton Srimulat aja ". Rasa heran Bu Sahal yang dituangkannya dalam bentuk pertanyaan dengan logat khas jawanya.

" Enggak kok buk, ini lo..lagi nonton sepasang pemain ketoprak jalanan ". jawabku dengan ketawa sedikit terkekeh-kekeh. " Halah mas, embuh mas…gak ngerti aku, Monggo diminum !!! ini kopi susu dan es teh srimulatnya ". Sindir Bu Sahal sambil meletakkan dua gelas diatas meja lantas pergi kedapur.

Sindiran bu sahal semakin menambah rasa geliku untuk ketawa. Semakin besar luapan tawaku semakin mirip tawa senyum yang ditunjukkan Kaka vokalis Slank di kaos depanku. (bersambung...ke Bag III)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar