Ketika manusia pertama atau Nabi Adam Alaihi Salam diturunkan ke bumi dengan membawa amanah informasi dan keyakinan ketuhanan yang bersifat fitrah ,serta melebihkannya dari makhluk alam lainnya dengan akal dan proses berfikir, sehingga dari peristiwa ini, berindikasikan bahwa dimulainya lembaran sejarah dan roda kehidupan manusia pertama kali yang disaksikan oleh terbit fajar sang matahari. Dengan bekal persiapan mental jasmani, akal intelektual dan kuatnya mutiara iman yang didekte langsung oleh Allah Subhanallah Wa Ta'ala, menjadikan manusia sebagai makhluk mahakarya tuhan yang paling sempurna serta mengangkatnya sebagai Khalifah di bumi dan seisinya untuk melindungi serta membentuk peradaban dengan tanpa meninggalkan ajakan seruan sesama tunduk dan pasrah didepan pangkuan Sang Pencipta.
Manusia dari segi dimana ia adalah makhluk yang berfikir dan ia berarti spesies yang berbeda dengan benda mati, tumbuh-tumbuhan bahkan hewan. Maka tidak ada keraguan lagi bahwa ketika manusia dihadapkan pada ribuan pertanyaan dari masalah fenomena-fenomena alam yang mengeliliginya, maka proses nalar mereka berpacu untuk menemukan dan menyingkap hakekat jawaban pertanyaan itu sekaligus mengenali 'illat (hukum kausalitas) dari eksistensi kejadian fenomena alam tersebut.
Mulai dari mana asalnya? bagaimana prosesnya hal itu ada? apakah ia bergerak dengan sendirinya ataukah ada yang menggerakannya? Kalau memang ada yang menggerakan, lantas siapa dia? Dan apa hubungannya dengan alam ini. Sehingga tanpa disadari manusia telah menyalurkan kegiatan proses berfikirnya pada kehidupan alam untuk menganalisis dan menemukan kunci jawabannya dengan sedetail mungkin, namun hasil buah pemikiran manusia dalam peristiwa ini, tidak menutup kemungkinan adanya keragaman jawaban serta bercoraknya metode dalam pengambilan kesimpulan yang dianut oleh akal mereka dalam menjawab teka-teki pertanyaan ini.
Terlebih lagi manusia pada zaman dahulu tak jarang berpegangan pada hal-hal mistikus kuno yang sudah turun temurun, dan disebagian lainnya berpegang pada cerita-cerita legenda yang tidak memiliki sandaran akal sekalipun apalagi referensi penilitian ilmiah, semua kosong dari itu semua. Ambil contoh seperti prinsip-prinsip tak bersandar yang tersebar di mesir, cina, india, babilonia kuno. Dan disebagian lain ada yang berusaha menemukan solusi jawabannya dengan analisa nalar filsafat yang murni bersih dari cerita legenda dan mistik. Sehingga kelompok yang terakhir ini biasa kita sebut dengan "kaum filosofis" atau orang yang mendalami hakekat-hakekat sesuatu melalui proses nalar fikir sesuai kemampuan manusia.
Dengan berjalannya waktu, Ketika ilmu filsafat muncul pertama kalinya di permukaan bumi melalui dari hasil karya-karya peradaban barat, maka produk filosof ini tidak memungkiri adanya intervensi pemikiran dari pengetahuan-pengetahuan peradaban ketimuran yang ada pada mesir kuno, kaum hindustan, dan babilonia. Dimana mereka lebih dulu mengenal akan bentuk-bentuk geometri, ilmu astronomi, keahlian teknik senjata dan epistemologi ketuhanan, baik dalam bingkai kebenaran maupun kebatilan.
Intervensi akulturasi ini bisa kita katakan hasil sebuah perkawinan buah pikiran dan karya anak-anak manusia antara barat dan timur saling melengkapi dan saling menambal lubang kelemahan masing-masing, dimana pengetahuan-pengetahuan peradaban timur meski sering dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, namun keunggulan mahakarya mereka ini tidak terumuskan dalam sebuah kemasan disiplin ilmu. Sehingga dapat dipatenkan menjadi sebuah pengetahuan umum. Dan datanglah orang yunani ( Thales) dan kemudian Socrates dengan maksud berpetualang dan tukar pikiran dengan orang timur membuat dua orang filosof tersebut terdorong dan tertarik akan mengetahui dan mendalami kekayaan pengetahuan dan peradaban ketimuran. Sehingga terbuktilah keinginan mereka dengan menciptakan rumusan-rumusan hukum alam tersebut menjadi sebuah disiplin ilmu, yang itu adalah ilmu filsafat.
Oleh karna itu, adanya saling keterpengaruhan yang inheren antara peradaban timur dan barat dalam pembangunan peradaban dunia baik di bidang pengetahuan alam, etika maupun estetika, menjadikan peradaban timur telah ikut andil dalam membangun manufaktur-manufaktur tatanan kehidupan manusia bahkan peradaban dunia.
Manusia dari segi dimana ia adalah makhluk yang berfikir dan ia berarti spesies yang berbeda dengan benda mati, tumbuh-tumbuhan bahkan hewan. Maka tidak ada keraguan lagi bahwa ketika manusia dihadapkan pada ribuan pertanyaan dari masalah fenomena-fenomena alam yang mengeliliginya, maka proses nalar mereka berpacu untuk menemukan dan menyingkap hakekat jawaban pertanyaan itu sekaligus mengenali 'illat (hukum kausalitas) dari eksistensi kejadian fenomena alam tersebut.
Mulai dari mana asalnya? bagaimana prosesnya hal itu ada? apakah ia bergerak dengan sendirinya ataukah ada yang menggerakannya? Kalau memang ada yang menggerakan, lantas siapa dia? Dan apa hubungannya dengan alam ini. Sehingga tanpa disadari manusia telah menyalurkan kegiatan proses berfikirnya pada kehidupan alam untuk menganalisis dan menemukan kunci jawabannya dengan sedetail mungkin, namun hasil buah pemikiran manusia dalam peristiwa ini, tidak menutup kemungkinan adanya keragaman jawaban serta bercoraknya metode dalam pengambilan kesimpulan yang dianut oleh akal mereka dalam menjawab teka-teki pertanyaan ini.
Terlebih lagi manusia pada zaman dahulu tak jarang berpegangan pada hal-hal mistikus kuno yang sudah turun temurun, dan disebagian lainnya berpegang pada cerita-cerita legenda yang tidak memiliki sandaran akal sekalipun apalagi referensi penilitian ilmiah, semua kosong dari itu semua. Ambil contoh seperti prinsip-prinsip tak bersandar yang tersebar di mesir, cina, india, babilonia kuno. Dan disebagian lain ada yang berusaha menemukan solusi jawabannya dengan analisa nalar filsafat yang murni bersih dari cerita legenda dan mistik. Sehingga kelompok yang terakhir ini biasa kita sebut dengan "kaum filosofis" atau orang yang mendalami hakekat-hakekat sesuatu melalui proses nalar fikir sesuai kemampuan manusia.
Dengan berjalannya waktu, Ketika ilmu filsafat muncul pertama kalinya di permukaan bumi melalui dari hasil karya-karya peradaban barat, maka produk filosof ini tidak memungkiri adanya intervensi pemikiran dari pengetahuan-pengetahuan peradaban ketimuran yang ada pada mesir kuno, kaum hindustan, dan babilonia. Dimana mereka lebih dulu mengenal akan bentuk-bentuk geometri, ilmu astronomi, keahlian teknik senjata dan epistemologi ketuhanan, baik dalam bingkai kebenaran maupun kebatilan.
Intervensi akulturasi ini bisa kita katakan hasil sebuah perkawinan buah pikiran dan karya anak-anak manusia antara barat dan timur saling melengkapi dan saling menambal lubang kelemahan masing-masing, dimana pengetahuan-pengetahuan peradaban timur meski sering dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, namun keunggulan mahakarya mereka ini tidak terumuskan dalam sebuah kemasan disiplin ilmu. Sehingga dapat dipatenkan menjadi sebuah pengetahuan umum. Dan datanglah orang yunani ( Thales) dan kemudian Socrates dengan maksud berpetualang dan tukar pikiran dengan orang timur membuat dua orang filosof tersebut terdorong dan tertarik akan mengetahui dan mendalami kekayaan pengetahuan dan peradaban ketimuran. Sehingga terbuktilah keinginan mereka dengan menciptakan rumusan-rumusan hukum alam tersebut menjadi sebuah disiplin ilmu, yang itu adalah ilmu filsafat.
Oleh karna itu, adanya saling keterpengaruhan yang inheren antara peradaban timur dan barat dalam pembangunan peradaban dunia baik di bidang pengetahuan alam, etika maupun estetika, menjadikan peradaban timur telah ikut andil dalam membangun manufaktur-manufaktur tatanan kehidupan manusia bahkan peradaban dunia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar